Jolotundo adalah sebuah situs sejarah yang terletak di Trawas, Mojokerto. Situs ini terkenal dengan candi yang dibangun pada abad ke-10 dan berfungsi sebagai pemandian atau tempat peribadatan pada masa kerajaan Majapahit dan sebelumnya.
Sejarah Jolotundo
Pendirian dan Fungsi Awal
Candi Jolotundo dibangun pada tahun 977 Masehi oleh Raja Udayana dari Bali sebagai persembahan kepada Dewa Wisnu. Kompleks candi ini dibangun dengan arsitektur yang menggabungkan elemen Hindu dan Buddha, mencerminkan toleransi dan sinergi agama pada masa itu.
Kegunaan Sebagai Pemandian
Jolotundo dikenal karena kolam-kolamnya yang digunakan sebagai tempat pemandian ritual. Air dari sumber alami yang mengalir di Jolotundo dianggap suci dan memiliki khasiat penyembuhan. Hingga kini, air dari Jolotundo masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan spiritual.
Daya Tarik Wisata
Keindahan Arsitektur
Kompleks Jolotundo memiliki keindahan arsitektur batu yang khas dengan ukiran-ukiran halus yang menggambarkan cerita-cerita epik Hindu dan Buddha. Batu-batu besar yang disusun dengan presisi menunjukkan keahlian para tukang batu pada masa itu.
Lingkungan Alam
Terletak di kaki Gunung Penanggungan, Jolotundo dikelilingi oleh hutan dan pemandangan alam yang indah. Udara sejuk dan suasana tenang membuat tempat ini ideal untuk meditasi dan refleksi diri.
Kegiatan Ritual
Banyak orang datang ke Jolotundo untuk melakukan ritual pembersihan diri atau mandi suci. Pada malam tertentu, terutama pada malam bulan purnama, tempat ini ramai dikunjungi oleh mereka yang mencari ketenangan dan berkah.
Akses dan Fasilitas
Untuk mencapai Jolotundo, pengunjung dapat mengambil rute dari kota Mojokerto menuju Trawas, yang memerlukan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan dengan mobil. Fasilitas di sekitar situs sudah cukup memadai dengan adanya tempat parkir, toilet, dan warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan.

No comments:
Post a Comment